Mengharu Biru di Angkot Biru
Sore itu matahari bersinar dengan cerahnya. Aku, reza asriandi, baru saja menyelesaikan sebuah daurah(pelatihan.red) di atas gunung Burangrang, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dengan penuh suka dan cita berpadu dengan rasa puas juga merasakan sungguh maha besar Allah yang telah memberikan ketenangan di hati orang-orang yang beriman. Aku langkahkan langkah-langkah kecilku menapaki naik turunya bukit sambil menikmati betapa indahnya penciptaan langit dan bumi sehingga pada akhirnya dengan sedikit lelah dan letih aku pun pulang bersama sahabat-sahabat seperjuanganku untuk mengembalikan stamina pribadi dan mengaplikasi semua ilmu yang didapati.
--sekarang masuk cerita yang menarik--
Aku pulang seharusnya bersama sahabtku menggunakan angkutan yang sudah di sewa oleh panitia. Namun, karena arah rumahku berlawanan dengan arah kampus, aku memilih pulang sendiri menggunakan angkutan umum dan di angkutan umum inilah aku menemukan cerita yang luar biasa menarik. Ketika itu aku naik angkot jurusan permata-cimahi yang berwarnabiru. Awalnya angkot tersebut sepi dan kondisinya biasa saja hingg suatu saat ada sekelompok ibu-ibu dan banyak anak-anak kecil(balita) naik angkot dan mengubah kondisi angkot jadi ramai. Anak-anak tersebut(sekita 4 atau 5 anak) itu duduk di sekelilingku. Mereka ngbrol satu sama lain membicarakan hal-hal yang unik. Tentang mobil yang berjalan, alas angkot yang bolong, sampai ibu-ibu yang ada di pinggir jalan. Anak yang lain bahkan ada yang "mengganggu"ku dengan menari-narik name tag yang aku gunakan. Aku pun tersenyum pada ibunya. Jika di lihat dari wajahnya, nampaknya ibu-ibu itu sekeluarga(ada kemiripan). Satu hal yang sangat menarik (dan yang paling sukai) adalah tingkah polah interaksi antar ibu-ibu, antar anak-anak dan anta ibu-bu dananak-anak. Entah mengapa nampak sekali keharmonisan keluarga itu. Anak-anak saling tersenyum dan memeluk. Adik perempuan yang kecli di di elus-elus oleh kakak-kakak laki-lakinya. Anak anak ingin bergantianpangkuan antar ibu ibu. Satu orang anak laki-laki ingin duduk di samping adik laki-laki lainnya. Aku melihat ini merupakan suatu pola interaksi yang luar biasa dan sesungguhnya aku merasakan hal tersebut bentuk aplikasi nyata dari ukhuwah.
Ya, mungkin saya berharap cerita tersebut dapat memberikansuatu contoh aplikatif untuk membentuk ukhuwah yang kita miliki.
Minggu, 07 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar